Perspektif lmu Komunikasi
Pengertian konsep perspektif yang
dikemukakan Fisher (1978) adalah sudut pandang yang memungkinkan seseorang
memperoleh pertama, gambaran tentang kebenaran umum dari pengamatan atau interpretasi,
kedua, konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat dalam memandang suatu fenomena sosial. Fisher
mengemukakan pula bahwa perspektif dapat dipahami sebagai model, pendekatan,
strategi intelektual, kerangka konseptual, dan weltanchaungen. Denzin dan Lincoln (1994)
berpendapat bahwa perspektif dan paradigma bersama-sama saling menggunakan
beberapa elemen. Adapun elemen-elemen paradigma adalah epistemologi, ontologi,
dan metodologi.
Ilmu komunikasi adalah
ilmu yang mempelajari tentang tata cara beromunikasi serta menggunakan berbagai
alat komunikasi sebagai saran komunikasi terhadap masyarakat.
Adapun
definisi ilmu komunikasi yang lain yaitu ilmu yang mempelajari cara-cara untuk
mentransfer ide dari satu individu atau grup ke individu ataupun ke grup yang
lainnya. Proses transfer itu sendiri dapat melalui media tertulis, lisan,
maupun media yang lainnya. Sedangkan pengertian ilmu komunikasi menurut para
ahli atau beberapa pakar dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Ilmu
Komunikasi, salah satunya yaitu Berelson & Stainer, 1964 mengatakan bahwa
komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan
lain-lain menggunakan simbol-simbol, seperti kata-kata, gambar, angka, dan
lain-lain
Tulisan ini bertujuan memberikan
pemahaman tentang teori dan perspektif dalam ranah penelitian ilmu komunikasi.
Proses perkembangan teori tidak terjadi dalam vakum (terlepas dari pengaruh ruang
dan waktu). Tetapi, kerangka filosofis berlaku ketika pembentukan dan pengujian
teori terjadi.
Perspektif adalah kerangka konseptual;
seper¬angkat asumsi-asumsi; seperangkat nilai-nilai; dan seperangkat
gagasan-gagasan yang memengaruhi persepsi kita dan memengaruhi tindakan dalam
suatu situasi (Charon, 1998).
Secara ontologis, pengalaman manusia
merupakan segenap ujud yang dapat dijangkau
lewat pancaindera atau alat yang membantu kemampuan
panca indera. Didasarkan pada landasan ontologis maka obyek yang ditelaah dalam
komunikasi seni pertunjukan adalah seni pertunjukan sebagai bentuk kreativitas manusia
yang dilandasi dengan pengalaman estetis
mereka. Pengalaman estetis ini tidak dapat dipukul rata karena setiap manusia memiliki budaya yang berbeda. Budaya yang tumbuh
dalam sub'kultur atau entitasentitas yang
menjadi pembeda bentuk seni yang dihasilkannya akan tumbuh melalui komunikasi
Untuk itulah, komunikasi dalam seni pertunjukan akan dapat eksis karena budaya'budaya
yang ada pada subkultur atau entitas itu.
Ontologi atau metafisika umum adalah
cabang filsafat ilmu yang mempelajari hakikat sesuatu (obyek) yang dipelajari ilmu tertentu.
Cabang ini dijalankan untuk menghasilkan definisi, ruang lingkup, dan teori'teori
tentang ilmu yang bersangkutan. Ontologi mempelajari
hal'hal yang abstrak yang berkaitan dengan realitas
(materi) yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan sebagai obyek. Terkait dengan hal
itu, komunikasi seni pertunjukan merupakan
realitas abstrak yang dapat ditelaah dengan metode'metode tertentu. Komunikasi seni pertunjukan dapat berupa objek dari pengalaman
inderawi manusia. Dalam istilah seni, hal demikian disebut sebagai pengalaman estetis.
Dengan demikian, komunikasi seni pertunjukan adalah suatu pengetahuan yang dipelajari
sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Hal-hal yang tercakup dalam komunikasi seni pertunjukan
sebagai ilmu pengetahuan antara lain adanya pesan'pesan (messages) antara manusia
dengan seni pertunjukannya yang bersifat transmisional, transaksional, dan interaksional.
Dalam konteks ontologis dibangun definisi
kerja tentang komunikasi seni pertunjukan. Dari definisi ini pula yang sekaligus
mempertegas batas'batas pembeda ilmu komunikasi dengan ilmu'ilmu lainnya. Misalnya,
dalam konteks peristiwa pertunjukan di mana suatu bentuk pertunjukan berhubungan
dengan pesan yang dimaknai melaui media seni pertunjukan. Dalam komunikasi seni
pertunjukan berkaitan pula dengan komunikasi yang bersifat transendental dengan
tuhan dalam bentuk pertunjukan ritual. Pesan'pesan manusia sebagai realitas dalam
seni pertunjukan dapat dikenali menurut sifat'sifatnya. Salah satu sifat yang
utama adalah realitas itu dapat dicerap oleh panca indera manusia (Onong 1993).
Dalam realitas ini, komunikasi dapat menjelaskan realitas komunikasi yang dapat
dikonsepsi menjadi suatu teori tentang komunikasi atas berbagai fenomena,
termasuk pula pada fenomena seni pertunjukan (Nina Winangsih Syam, 2002).
Secara epistemologis, komunikasi
seni pertunjukan merupakan proses komunikasi yang terjadi dalam seni
pertunjukan. Untuk itu, langkah bagaimana prosedur terjadinya komunikasi dalam
seni pertunjukan, hal'hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan
pengetahuan yang benar tentang komunikasi di dalam seni pertunjukan sebagai suatu
kebenaran pengetahuan yang menjadi kekuatan daya hidup seni. Penyelidikan asal,
sifat, metode, dan gagasan pengetahuan manusia sangat penting u tuk dilakukan.
Komunikasi seni pertunjukan sebagai realitas
merupakan pengetahuan. Disebut pengetahuan karena diperoleh dari kegiatan mental
manusia (kesadaran) berpikir dan berkontemplasi tentang realitas itu yang diwujudkan
dalam bentuk seni pertunjukan. agar dapat disebut sebagai pengetahuan ilmiah (ilmu
pengetahuan), maka realitas sebagai pengetahuan harus disusun secara benar menurut
metode tertentu. Intinya, cabang kedua filsafat ilmu ini memungkinkan pengetahuan
manusia menyangkut realitas komunikasi seni pertunjukan dapat dipelajari sebagai
sebuah ilmu pengetahuan. Kenyataan itu terjadi pada ilmu komunikasi sendiri
yang telah mengembangkan berbagai model dan metode, sekalipun diakui belum ada
teori umum (grand theory) yang dapat menjadi payung terhadap semua model dan
motode dalam pendekatan komunikasi (Nina Winangsih Syam, 2002).
Secara Aksiologis, komunikasi seni pertunjukan
merupakan interaksi nilai'nilai dalam segenap wujud pengetahuan secara moral
yang ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.Landasan ini memberikan kita pada pemahaman
nilai guna seni. Melalui komunikasi seni pertunjukan, fungsi'fungsi, nilai'nilai
dan makna seni diberdayakan sebagai suatu keberfungsian seni dalam masyarakat,
baik sebagai hiburan, ajaran moral dan agama, pewarisan budaya, politik dan ekonomi.Dalam
perkembangan ilmu komunikasi, kenyataan adanya komunikasi seni pertunjukan dapat
disaksikan dalam beberapa peristiwa pertunjukan. Melalui perspektif komunikasi,
seni pertunjukan memiliki nilai bagi para pelakunya. Melalui komunikasi seni pertunjukan,
ideologi mereka dibentangkan lewat tarian Cakalele. Ontologi, epistemologi, dan
aksiologi dalam komunikasi seni pertunjukan merupakan aspek kajian yang penting
sebagai bagian dari cara pandang filsafat ilmu. Berkaitan dengan komunikasi
seni pertunjukan, terdapat aspek lain yang penting, yaitu komponen pikir yang berdasarkan
atas filsafat ilmu, yang meliputi; etika, logika dan estetika. Penyatuan antara
aspek kajian dan komponen pikir tersebut melahirkan ethos, pathos, dan logos sebagaimana
pemikiran Aristoteles yang menjadi sumbu pemikiran filosofis. Ethos mengajarkan
para ilmuwan tentang pentingnya rambu'rambu normatif dalam pengembangan ilmu
yang merupakan kunci utama bagi hubungan antara produk ilmu dan masyarakat pengguna.
Pathos merupakan komponen yang menyangkut
masalah afeksi atau emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai mahluk
yang selalu mencintai keindahan dan penghargaan, sehingga tidak menjadi mahluk yang
kaku dan monoton. Sementara logosmerupakan komponen yang membimbing ilmuwan
untuk mengambil suatu keputusan yang didasarkan atas pemikiran yang bersifat nalar
dan rasional (Nina W. Syam, 2002).
No comments:
Post a Comment