Tuesday, October 31, 2017

Perspektif lmu Komunikasi



Perspektif lmu Komunikasi
Pengertian konsep perspektif yang dikemukakan Fisher (1978) adalah sudut pandang yang memungkinkan seseorang memperoleh pertama, gambaran tentang kebenaran umum dari pengamatan atau interpretasi, kedua, konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat  dalam memandang suatu fenomena sosial. Fisher mengemukakan pula bahwa perspektif dapat dipahami sebagai model, pendekatan, strategi intelektual, kerangka konseptual, dan  weltanchaungen. Denzin dan Lincoln (1994) berpendapat bahwa perspektif dan paradigma bersama-sama saling menggunakan beberapa elemen. Adapun elemen-elemen paradigma adalah epistemologi, ontologi, dan metodologi.
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara beromunikasi serta menggunakan berbagai alat komunikasi sebagai saran komunikasi terhadap masyarakat.
Adapun definisi ilmu komunikasi yang lain yaitu ilmu yang mempelajari cara-cara untuk mentransfer ide dari satu individu atau grup ke individu ataupun ke grup yang lainnya. Proses transfer itu sendiri dapat melalui media tertulis, lisan, maupun media yang lainnya. Sedangkan pengertian ilmu komunikasi menurut para ahli atau beberapa pakar dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja, Pengantar Ilmu Komunikasi, salah satunya yaitu Berelson & Stainer, 1964 mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain menggunakan simbol-simbol, seperti kata-kata, gambar, angka, dan lain-lain
Tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman tentang teori dan perspektif dalam ranah penelitian ilmu komunikasi. Proses perkembangan teori tidak terjadi dalam vakum (terlepas dari pengaruh ruang dan waktu). Tetapi, kerangka filosofis berlaku ketika pembentukan dan pengujian teori terjadi.
Perspektif adalah kerangka konseptual; seper¬angkat asumsi-asumsi; seperangkat nilai-nilai; dan seperangkat gagasan-gagasan yang memengaruhi persepsi kita dan memengaruhi tindakan dalam suatu situasi (Charon, 1998).
Secara ontologis, pengalaman manusia merupakan segenap ujud yang dapat dijangkau
lewat pancaindera atau alat yang membantu kemampuan panca indera. Didasarkan pada landasan ontologis maka obyek yang ditelaah dalam komunikasi seni pertunjukan adalah seni pertunjukan sebagai bentuk kreativitas manusia yang dilandasi dengan pengalaman  estetis mereka. Pengalaman estetis ini tidak dapat dipukul rata karena setiap manusia  memiliki budaya yang berbeda. Budaya yang tumbuh dalam sub'kultur atau entitasentitas  yang menjadi pembeda bentuk seni yang dihasilkannya akan tumbuh melalui komunikasi Untuk itulah, komunikasi dalam seni pertunjukan akan dapat eksis karena budaya'budaya yang ada pada subkultur atau entitas itu.
Ontologi atau metafisika umum adalah cabang filsafat ilmu yang mempelajari hakikat  sesuatu (obyek) yang dipelajari ilmu tertentu. Cabang ini dijalankan untuk menghasilkan  definisi, ruang lingkup, dan teori'teori tentang ilmu yang bersangkutan. Ontologi mempelajari
hal'hal yang abstrak yang berkaitan dengan realitas (materi) yang ditelaah oleh ilmu pengetahuan sebagai obyek. Terkait dengan hal itu, komunikasi seni pertunjukan  merupakan realitas abstrak yang dapat ditelaah dengan metode'metode tertentu. Komunikasi  seni pertunjukan dapat berupa objek dari pengalaman inderawi manusia. Dalam istilah seni, hal demikian disebut sebagai pengalaman estetis. Dengan demikian, komunikasi seni pertunjukan adalah suatu pengetahuan yang dipelajari sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Hal-hal yang tercakup dalam komunikasi seni pertunjukan sebagai ilmu pengetahuan antara lain adanya pesan'pesan (messages) antara manusia dengan seni pertunjukannya yang bersifat transmisional, transaksional, dan interaksional.
Dalam konteks ontologis dibangun definisi kerja tentang komunikasi seni pertunjukan. Dari definisi ini pula yang sekaligus mempertegas batas'batas pembeda ilmu komunikasi dengan ilmu'ilmu lainnya. Misalnya, dalam konteks peristiwa pertunjukan di mana suatu bentuk pertunjukan berhubungan dengan pesan yang dimaknai melaui media seni pertunjukan. Dalam komunikasi seni pertunjukan berkaitan pula dengan komunikasi yang bersifat transendental dengan tuhan dalam bentuk pertunjukan ritual. Pesan'pesan manusia sebagai realitas dalam seni pertunjukan dapat dikenali menurut sifat'sifatnya. Salah satu sifat yang utama adalah realitas itu dapat dicerap oleh panca indera manusia (Onong 1993). Dalam realitas ini, komunikasi dapat menjelaskan realitas komunikasi yang dapat dikonsepsi menjadi suatu teori tentang komunikasi atas berbagai fenomena, termasuk pula pada fenomena seni pertunjukan (Nina Winangsih Syam, 2002).
Secara epistemologis, komunikasi seni pertunjukan merupakan proses komunikasi yang terjadi dalam seni pertunjukan. Untuk itu, langkah bagaimana prosedur terjadinya komunikasi dalam seni pertunjukan, hal'hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar tentang komunikasi di dalam seni pertunjukan sebagai suatu kebenaran pengetahuan yang menjadi kekuatan daya hidup seni. Penyelidikan asal, sifat, metode, dan gagasan pengetahuan manusia sangat penting u tuk dilakukan.
Komunikasi seni pertunjukan sebagai realitas merupakan pengetahuan. Disebut pengetahuan karena diperoleh dari kegiatan mental manusia (kesadaran) berpikir dan berkontemplasi tentang realitas itu yang diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan. agar dapat disebut sebagai pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan), maka realitas sebagai pengetahuan harus disusun secara benar menurut metode tertentu. Intinya, cabang kedua filsafat ilmu ini memungkinkan pengetahuan manusia menyangkut realitas komunikasi seni pertunjukan dapat dipelajari sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Kenyataan itu terjadi pada ilmu komunikasi sendiri yang telah mengembangkan berbagai model dan metode, sekalipun diakui belum ada teori umum (grand theory) yang dapat menjadi payung terhadap semua model dan motode dalam pendekatan komunikasi (Nina Winangsih Syam, 2002).
Secara Aksiologis, komunikasi seni pertunjukan merupakan interaksi nilai'nilai dalam segenap wujud pengetahuan secara moral yang ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.Landasan ini memberikan kita pada pemahaman nilai guna seni. Melalui komunikasi seni pertunjukan, fungsi'fungsi, nilai'nilai dan makna seni diberdayakan sebagai suatu keberfungsian seni dalam masyarakat, baik sebagai hiburan, ajaran moral dan agama, pewarisan budaya, politik dan ekonomi.Dalam perkembangan ilmu komunikasi, kenyataan adanya komunikasi seni pertunjukan dapat disaksikan dalam beberapa peristiwa pertunjukan. Melalui perspektif komunikasi, seni pertunjukan memiliki nilai bagi para pelakunya. Melalui komunikasi seni pertunjukan, ideologi mereka dibentangkan lewat tarian Cakalele. Ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam komunikasi seni pertunjukan merupakan aspek kajian yang penting sebagai bagian dari cara pandang filsafat ilmu. Berkaitan dengan komunikasi seni pertunjukan, terdapat aspek lain yang penting, yaitu komponen pikir yang berdasarkan atas filsafat ilmu, yang meliputi; etika, logika dan estetika. Penyatuan antara aspek kajian dan komponen pikir tersebut melahirkan ethos, pathos, dan logos sebagaimana pemikiran Aristoteles yang menjadi sumbu pemikiran filosofis. Ethos mengajarkan para ilmuwan tentang pentingnya rambu'rambu normatif dalam pengembangan ilmu yang merupakan kunci utama bagi hubungan antara produk ilmu dan masyarakat pengguna.
Pathos merupakan komponen yang menyangkut masalah afeksi atau emosi atau rasa yang ada dalam diri manusia sebagai mahluk yang selalu mencintai keindahan dan penghargaan, sehingga tidak menjadi mahluk yang kaku dan monoton. Sementara logosmerupakan komponen yang membimbing ilmuwan untuk mengambil suatu keputusan yang didasarkan atas pemikiran yang bersifat nalar dan rasional (Nina W. Syam, 2002).

No comments:

Post a Comment

Makalah Marketing Politik

Makalah Marketing Politik KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah yang maha kuasa yang telah memberikan rahmat dan hi...